Terharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab

Terharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab Putri Rasulullah

Spread the love

storyislam.comTerharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab Puteri Rasulullah – Ketika Rasulullah saw berusia tiga puluh tahun, lahirlah putri pertamanya yang kemudian diberi nama Zainab. dan setelah Zainab beranjak usia menikah, datanglah Abul-‘Ash bin Rabi’ Menjumpai Nabi saw sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Lalu Ia berkata : Aku bermaksud menikahi Zainab Putrimu yang sulung itu. (Adab)

Nabipun menjawab : sebentar, sampai aku meminta izinnya ( Syari’at)

Masuklah Nabi kerumah menjumpai Zainab dengan berkata : Anak Laki-laki Bibikmu datang menjumpaiku dan menyebut namamu.

Apakah engkau mau dia menjadi suamimu,,?

Lalu merahlah wajahnya dan tersenyum ( Malu).

Abul-‘Ash bin Rabii’ adalah anak dari pada Halah bint Khuwailid, Halah ini adalah saudara perempuan kandung Khadijah bint Khuwailid Ibunya Zainab, Isteri Pertama Baginda Nabi saw,

Setelah Nabi menikahkan Zainab dengan Abul-‘Ash bin Rabi’, Rasulullah keluar bertahannust di Gua Hira’. 

Setelah menikah, mulailah kisah cinta keduanya bersemai dengan amat kuat.

Dari pernikahannya dengan Abul-‘Ash, Zainab melahirkan seorang putra dan seorang putri.

Yang putra bernama Ali, sedangkan yang putri bernama Umamah. Dan Umamah inilah cucu Baginda Nabi saw yang tersebut dalam hadis bahwa Rasulullah saw menggendongnya saat sedang shalat, sebuah hadis dari Abu Qatadah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

            عَنْ  أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلِأَبِي العَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا ، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Dari Abi Qatadah Al-Anshari ra. Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw ada ia sedang shalat, dan ianya menggendong Umamah bint Zainab bint Rasulillah saw, anak dari Abil-‘Ash bin Rabii’ bin Abdu syams, Apabila Rasulullah sujud beliau meletakkannya dan apabila sujud Rasulullah saw menggendongnya.

Problematika Rumah Tangga Muncul – Terharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab Puteri Rasulullah

Kemudian muncullah permasalahan besar dalam keluarga Zainab (‘Aqidah)

Dimana Nabi Muhammad saw diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul.

sedangkan Abul-‘Ash tengah berada di perantauan untuk berniaga, dan ketika pulang ia mendapati isterinya telah masuk islam.

Sebelumnya Zainab telah mengetahui Ibu dan Bapaknya menjumpai Waraqh bin Naufal dan apa yang dibicarakan oleh mereka.

Zainab berkata : saya punya berita besar untukmu, Abul-‘Ash  bangkit dan pergi meninggalkannya tanpa bertengkar (sebagai sebuah penghormatan untuk Isteri).

Betapa terkejutnya Zainab dan mengejarnya seraya berkata : Sungguh bapakku telah diutus sebagai seorang Nabi dan aku telah masuk islam.

Abul-‘Ash menjawab : Mengapa tidak memberitahu aku lebih dulu..?

Zainab : Aku tidak mungkin mendustakan Bapakku, dan bapakku bukanlah seorang pendusta, semua orang tau bahwa Ia adalah Ash-shadiqul Amiin (orang Jujur dan terpercaya).

Dan bukan saya saja yang telah masuk islam, Ibuku yaitu Bibikmu (Khadijah) juga telah masuk Islam, Adik-adikku Juga, terus anak pamanku (‘Ali bin Abi Thalib) juga telah masuk Islam, Anak Bibikmu (Usman bin Affan), Temanmu Juga ( Abu Bakar), dua-duanya juga telah masuk islam.

Abul-‘Ash menjawab : Aku tidak suka orang-orang nanti ngomong ” Ia telah menghina kaumnya dan ingkar dengan bapak-kakeknya untuk membuat isterinya senang”.

Dan Bapakmu tidak juga sebagai seorang yang dicurigai.. Mengapa tidak minta maaf dan bertahan..? (dialog serius)

Zainab : Dan Bagaimana aku Akan minta maaf..? karena aku ini adalah isterimu, membantumu kejalan yang haq agar engkau kuat.. ( masukan dan tawaran).

Setelah 20 tahun, Zainab menepati ucapannya untuk sang suami (sabar karena Allah)

Abul-‘Ash tetap dalam keadaan kafir sampai datanglah masanya Nabi berhijrah, maka pergilah Zainab menemui nabi dan berkata : wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk tinggal bersama suamiku..? (cinta)

Maka Rasulullah saw menyetujuinya untuk tinggal bersama suami, sedangkan orang-orang Quraisy mendesak Abul-‘Ash agar menceraikan Zainab dan mereka bersedia menggantikannya dengan perempuan mana saja yang ia sukai, Abul-‘Ash menjawab : Tidak ada perempuan dikota Mekkah ini yang aku cintai selain dari pada Zainab.

Dan teruslah Zainab tinggal bersama suami di kota Mekkah, sampai hari terjadinya peperangan Badar, dan Abul-‘Ash memutuskan untuk ikut berperang di barisan kaum Quraisy,

 Suaminya Memerangi Bapaknya,

Zainab menangis atas keputusan yang diambil oleh suaminya untuk ikut berperang di barisan orang-orang kafir Quraisy melawan Rasulullah saw yang tak lain adalah Bapaknya, dengan bersimpuh serta bertadharru’ dihadapan Allah swt ia bermunajat.

” Yaa Allah sesungguhnya aku khawatir akan suatu hari nanti, yang ketika matahari terbit anakku telah yatim atau Bapakku telah tiada ( Bingung dan penuh Harap).

Abul-‘Ashpun keluar ikut dalam perang Badar.

Setelah peperangan Selesai, Abul-‘Ash ditangkap dan jadi tawanan kaum Muslimin, berita perang Badar berangsur-angsur tiba di kota Mekkah.

Zainab menunggu dan bertanya : Bagaimana bapakku..? Apa yang yang dilakukannya..?

Orang-orang menjawab : Kaum muslimin menang dalam perang.

Dan Zainabpun sujud syukur kepada Allah swt.

Kemudian ia bertanya lagi : Bagaimana suamiku…? apa yang dilakukannya..?

Mereka menjawab : Suamimu ditawan oleh ipar-iparnya.

Zainab berkata : Aku akan mengirim tebusan untuk suamiku ( Kasih sayang dan kehati-hatian).

Baca Juga : Kisah Tsa’labah Antara Dha’if Tidak Shahih Atau Makzub

Tapi Zainab tidak punya harta (uang) yang cukup untuk dijadikan tebusan suaminya.

Maka ia melepaskan kalung ibunya, satu-satunya perhiasan berharga yang menghiasi dadanya, sebagai hadiah pemberian ibunya ketika menikah dulu.

Zainab mengirim kalung itu ke Rasulullah saw, dibawa oleh saudara kandung Abul’-Ash bin Rabi’.

Dan Nabi saw dimadinah Duduk menunggu dan menerima Tebusan dan membebaskan tawanan. Dan ketika melihat kalung Sayyidah Khadijah, Rasulullah terkejut dan bertanya : Ini tebusan siapa..? para sahabat menjawab : Ini tebusan Abul-‘Ash bin Rabi’.

Rasulullah menangis.. dengan suara terisak Rasulullah berkata ” ini kalung Khadijah “, teringat akan isterinya yang telah tiada dan putrinya yang masih di Mekkah

Kemudian Rasulullah Bangkit dan berkata : Wahai para sahabatku.! “Sesungguhnya aku tidak membedakan orang ini (Abul-‘Ash) karena berstatus sebagai menantuku, bolehkah aku membebaskannya..? ( adil )

Apakah kalian menerima kalung ini dikembalikan kepadanya (Zainab)..?(Rendah hati seorang Panglima ) 

Para sahabat menjawab : Dengan senang hati wahai Rasulullah (adab para tentera)

Dan Nabipun mengembalikan kalung itu kepada Abul-‘Ash dan berpesan, “katakan kepada Zainab, Jangan sewenang-wenang dengan Kalung Kadijah” (Rasulullah jamin Akhlaqnya walaupun ia kafir)

Kemudian Nabi mengatakan : Wahai Abul-‘Ash, bolehkah kita berbicara empat mata.? kemudian Nabi menarik Abul-‘Ash menjauh dari orang-orang dan berkata : Wahai Abul-‘Ash sesungguhny Allah memerentahkan aku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dengan laki-laki kafir, maukah engkau mengembalikan puteriku?

Abul-‘Ash : Ya. (sikap seorang lelaki) – Terharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab Puteri Rasulullah

Zainab Dalam Keadaan Cemas

Zainab di Mekkah keluar menunggu kedatangan Abul-Ash di gerbang kota Mekkah, tatkala keduanya bertemu, Abul-‘Ash mengatakan : Saya akan berangkat,

Zainab : Kemana engkau akan berangkat..?

Abul ‘Ash : Bukan saya yang akan berangkat, tapi engkau yang akan berangkat kembali kepangkuan bapakmu.

Zainab : Kenapa..?

Abul-‘Ash : Kita harus bercerai,! kembalilah engkau kepada Ayahmu…

Zainab : Apakah tidak bisa engkau menemaniku dan masuk islam..?

Abul-‘Ash : Tidak bisa.

Kemudian Zainab mengambil petra dan putrinya dan berangkat ke kota Madinah ( Patuh), dengan diantar keluar dari kota Mekkah oleh Saudara Kandung Abul-‘Ash dan dijemput diluar oleh Zaid Bin Haristah dan seorang lagi sahabat utusan Rasulullah saw.

Dalam satu riwayat, terjadi peristiwa penolakan dari orang-orang Quraisy terhadap hijrahnya Zainab ke kota Madinah dan terjadi perkelahian antara Saudara Kandung Abul-‘Ash yang mengantar dan melindungi Zainab dengan orang-orang kafir Quraisy, yang mengakibatkan Zainab mengalami luka serius akibat dilempar dengan tombak dan jatuh dari sekedup ontanya,

Sesampainya dikota Madinah, mulailah para lelaki meminang Zainab selama enam tahun, akan tetapi ia menolak, dengan harapan suaminya akan masuk islam dan kembali (ruju’).

Setelah enam tahun berpisah Abul-‘Ash berangkat berniaga dari kota Mekkah ke Negeri Syam, dan ditengah-tengah perjalanan didekat kota Madinah berjumpalah ia dengan sekelompok sahabat yang menghadang kafilah orang-orang kafir Quraisy dan harta perniagaannya diambil oleh pasukan Sariyyah dan ia ditinggal lari oleh rombongannya.

Kemudian ia menanyakan rumah Zainab, dan mengetuk pintunya sebelum Fajar.

Lalu Zainab menanyakannya : Apakah engkau datang untuk masuk islam..? (berharap)

Abul-‘Ash : Tidak. Aku datang karena dihadang oleh kaum muslimin, harta perniagaanku dirampas.

Zainab : Bisakah engkau masuk islam..? ( Iba Penuh Perhatian)

Abul-‘Ash : Tidak.

Zainab : Jangan Takut. selamat datang wahai anak bibikku, selamat datang bapak ‘Ali dan Umamah ( Kasih sayang dan pertimbangan).

Baca Juga : Teguhkan Keyakinan tentang Islam, Melalui Budaya islam

Setelah Nabi mengimami kaum muslimin shalat fajar subuh itu, tiba-tiba terdengar suara dari belakang jamaah di pojok Mesjid.

Aku telah menjamin keberadaan Abul-‘Ash bin Rabii’..

Nabi saw : Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar..?

Tentu ya Rasulullah” Para sahabat menjawab.

Zainab : Ya Rasulullah..! Sesungguhnya Abul-‘Ash, jika jauh dia adalah anak bibikku, dan jika dekat dia adalah bapak dari anak-anakku, aku telah menjamin keberadaannya wahai Rasulullah.

Lalu berdirilah Rasulullah saw dan mengatakan : Wahai para sahabtku ..! Sesungguhnya laki-laki ini (Abul-‘Ash), kami tidak melindunginya karena sebagai menantu, tapi laki-laki ini telah mengatakan sesuatu kepadaku dan jujur terhadap diriku, dan menjanjikan sesuatu kepadaku dan telah menepatinya.

Jika kalian menerima untuk mengembalikan harta-hartanya dan membiarkan ia kembali kenegerinya, maka ini adalah lebih aku sukai, dan jika kalian tidak mau, maka perkara kembali kepada kalian, dan hak kalian semua keputusan dan aku tidak akan mencela. (Musyawarah)

Baca Juga : Hagia Sophia Jadi Mesjid Dan Sejarah Pilu Islam Andalusia

Para sahabat pasukan Sariyyah menjawab : Kami mengembalikan semua harta-hartanya wahai Rasulullah. ( Adab para tentera)

Nabi menjawab : Kami telah menjamin orang yang engkau jamin wahai Zainab..

Kemudian Nabi pergi menjumpai Zainab dirumahnya dan berkata : Wahai Zainab muliakan tempatnya karena dia anak bibikmu dan bapak dari anak-anakmu, tapi tidak boleh mendekatimu (tidur denganmu) karena dia tidak halal bagimu (rahmat dan syari’at)

Zainab : Tentu wahai Rasulullah ( Tha’at)

Lalu Zainab masuk kerumah dan berkata kepada Abul-‘Ash : Wahai Abul-‘Ash perceraian kita telah membuat engkau hina, maukah engkau masuk islam dan tinggal bersama kami..? (cinta dan Harapan)

Abul-‘Ash : Tidak.. Kemudian ia mengambil hartanya dan pulang keMekkah.

Sesampainya di kota Mekkah dia berdiri dan berkata : Wahai kaumku..! inilah harta kalian, apakah masih ada yang tersisa..? (Amanah)

Mereka menjawab : Semoga Allah membalas kebaikanmu (fithrah)

Abul-‘Ash : Sesungguhnya Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Hamba Allah dan utusanNya (hidayah dari Allah dan ni’mat)

Kemudian masuk kekota Madinah diwaktu fajar dan langsung menjumpai nabi dan berkata : Wahai Rasulullah engkau telah memberi jaminan kepadaku kemarin dan hari ini aku datang untuk aku ucapkan ” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya engkau utusan Allah” (membalas dengan cara yang lebih baik).

kemudian Abul-‘Ash berkata : wahai Rasulullah apakah engkau mengizinkan aku ruju’ ke Zainab..?

Maka Nabi meraih tangannya dan berkata : Mari..! Sesampainya didepan pintu rumah Zainab dan mengetuknya, Rasulullah saw berkata : wahai Zainab sesungguhnya anak bibikmu hari ini datang kepadaku meminta izin ruju’ kepadamu, apakah engkau menerimanya..?

Seketika merahlah wajahnya dan tersenyum ( senang). Terharu dan Sedih, Beginilah Kisah Zainab Puteri Rasulullah

Baca Juga : Teguhkan Keyakinan tentang Islam, Melalui Budaya islam

Abul-‘Ash tidak langsung masuk Islam setelah mendapat jaminan dari Rasulullah saw atas permintaan Zainab untuk tinggal di Madinah, karena ia menghindari agar keislamannya tidak diawali oleh pengkhianatan terhadap kaumnya yang telah mempercayainya untuk meniagakan harta harta mereka ke negeri Syam.

Setelah ia pulang ke Mekkah dan menyelesaikan semua amanah-amanah kaumnya barulah ia bersyahadat dan kemudian kembali berangkat keMadinah menjumpai Rasulullah saw dan Zainab tentunya, sang isteri yang sangat dicintainya, 

Setelah setahun dari kejadian ini, wafatlah Zainab di usianya yang ke dua puluh sembilan tahun, karena sakit luka yang dideritanya setelah dilempar tombak oleh orang-orang kafir Quraisy ketika hijrah dulu.

 Abul-‘Ash tak kuat menahan tangis atas kepergian Zainab Menghadap Allah swt. Sehingga orang-orang melihat Rasulullah mengusap wajahnya dan menenangkannya.

 Abul-‘Ash mengatakan : Wahai Rasulullah..! Aku tak kuasa hidup didunia ini tanpa keberadaan Zainab (Teman hidup sepanjang hayat)

Dan wafatlah Abul-‘Ash setelah setahun dari wafatnya Zainab. (Ruh-ruh dipertemukan).

Sekian..! Apabila telah selesai membaca, jangan lupa iringin dengan bershalawat kepada Baginda Nabi saw. Zar

 363 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *