Kisah Tsa’labah, Antara Dha'if, Tidak Shahih

Kisah Tsa’labah Antara Dha’if Tidak Shahih Atau Makzub

Spread the love

storyislam.comKisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih Atau Makzub – Alhamdulillah wash-shalaatu wassalaaamu ‘Ala Rasuulillah wa ‘Ala Aalili wa shahbihi wa man waalaah.. Amma ba’d.

Risalah kecil ini kami tulis sebagai sebuah lanjutan atas status Facebook yang telah kami posting pada Bulan Ramadhan yang lewat. Bertepatan  dengan peringatan peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah dunia islam yaitu perang badar. Dan mendapat tanggapan dari teman-teman yang berat hati menerima tulisan itu. Dan risalah ini pula tidak ada maksud untuk bersitegang dengan siapapun.

Baca Juga : KISAH TSA’LABAH APAKAH SHAHIH ?

Sebenarnya kami sudah ingin mengakhiri kajian tentang Tsa’labah ini. Namun karena mengingat desakan untuk memberi jawaban atas beberapa komentar yang sudah kami hentikan sementar waktu itu. Karena mengingat sedang menjalani sepuluh terakhir dari pada bulan Ramadhan. Maka kami berhenti dulu untuk menjawab komentar-komentar beberapa teman di facebook yang kebanyakan hujjahnya hanya ta’assub (fanatisme).

Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih

Kami ingin focus sepuluh terakhir dari pada bulan Ramadhan disamping ada beberapa kesibukan lain juga. Imam tarawih dimalam hari, mengisi kajian sore hari di radio Yadara, kemudian Muraja’ah Al-Quran persiapan untuk Tarawih malamnya. Maka baru sekaranglah kami sedikit memiliki waktu luang untuk menepati janji itu. Sekalian mengumpulkan kembali data-data nash dari kitab-kitab yang mu’tabar tentang kisah Tsa’labah yang telah tersebar di kolom-kolom komentar. Serta tidak sedikit tambahan dari kitab-kitab yang lain pula.

Baca Juga : 8 Janji Allah untuk Para Penghafal Al Quran

Dan mudah-mudahan risalah kecil ini dapat menjawab beberapa pertanyaan maupun sanggahan dari teman teman yang sudah lama tertunda jawabannya. Dan kalaupun merasa tidak terjawab berarti kami tidak lagi memiliki jawaban lebih dari ini. Lebih-lebih pertanyaan ataupun sanggahan yang hanya mengandalkan ta’assub (fanatisme), kami tidak memiliki matan kitab untuk menjawabnya.

Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih – kami awali dengan menyebutkan sumber kisah dan perkataan para Ulama tentang kisah Tsa’labah ini. Dan sengaja kami tuliskan nash kitab secara langsung. Dan kami terjemahkan, agar bagi yang tidak mengerti Bahasa Arab bisa membacanya dengan Bahasa Indonesia. Kalau ragu dengan terjemahan kami atau bahkan kadang salah boleh disanggah atau kita diskusi secara langsung.

Ibnu Hisyam

Perkataan Ibnu Hisyam (Ulama ahli Nahu dan pakar sejarah wafat tahun 213 H) Salah seorang Murid dari Ibnu Ishaq (wafat 150 H) Tokoh sejarah dan referensi semua Ulama-ulama dalam hal sejarah.

قال ابن هشام :هو ثعلبة بن حاطب بن عمرو بن عوف بن مالك الأنصاري الأوسي.
.وهو من بني أمية بن زيد ومن أهل بدروليس من المنافقين فيما ذَكَرَ لي مَنْ أَثِقُ بِهِ من أهل العلم

Berkata Ibnu Hisyam:
Tsa’labah bin Hathib bin ‘Amr bin ‘Auf bin Malik Al-anshari al-Ausy. Beliau berasal dari bani Ummayyah bin Zaid. Dan salah seorang dari Pasukan perang Badar dan bukan dari golongan munafiqin. Pada apa yang telah menyebut bagiku oleh orang yang aku percayai. (السيرة النبوية لابن كثير  Mausu’at kutub Turast Al-Islami jilid 2 halaman  346)

Ulama-Ulama Yang Mengatakan Sanad Kisah Ini Dhaif (بسند ضعيف)

Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih-thabaranidalam kitabnya Al-mu’jamul-kabir nomor 7873/260/8

Ibnu Mardawaih

Ibnu Abi Hatim

Al-Baihaqidalam kitab Dalaailunnubuwwah

ATh-thabaridalam kitab tafsirnya 

Abu Nu’aimdalam kitabnya Ma’rifatush-shahabah

1.   ATh-thabarani, Ath-thabari, Abu Nu’aim dalam kitab Ma’rifatussahabah dan         Haitsami dalam Majma’azzawaid 

قصة ثعلبة رواها الطبراني في الكبير والطبري في تفسيره وأبو نعيم في معرفة الصحابة اسناده ضعيف فيه علي بن يزيد الالهاني ضعيف كما تقدم وبه ضعفه الهيثمي في مجمع الزوائد

Artinya :

Qishah Tsa’labah sumbernya adalah Riwayat Imam Ath-Thabarani dalam kitab AlKabir. Dan Ath-Thabari dalam tafsirnya, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya Ma’rifatushshahabah. Sanad-sanadnya adalah DHA’IF (lemah), karena dalam sanad itu ada ‘Ali bin Yazid Al-Alhani. Beliau ini Dhaif sebagai mana telah di jelaskan, dan Dianya juga di dha’ifkan oleh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’azzaid.

(catatan kaki dari kitabAl-Itqan fi ‘Ulumil-Quran halaman 2034 Jilid 6 cetakan dar Al-fikri Bairut Libanon)

2. Imam Ath-thabari dalam tafsirnya mengatakan ” Berbeda ahli takwil pada orang yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah seorang laki-laki yang konon namanya adalah Tsa’labah bin Hathib. Kemudian Ath-thabari menulis hadis yang panjang itu sampai habis yang dalam perawinya terdapat Ma’an bin Rifa’ah As-sulami. Dan ‘Ali bin Yazid Al-alhani.

Ma’an bin Rifa’ah dalam ta’liq dibawahnya disebutkan ” hadishadisnya lemah, menulis hadisnya dan tidak dapat dijadikan hujjah,

sedangkan ‘Ali bin Yazid hadisnya matruk (tidak diterima) dan Dha’if bimarrah(lemah sekali). (Mausu’at kutub Turast Al-Islami jilid 14 halaman 371) 

3.Imam Jalaluddin Assayuthi dalam kitab Lubabunnuqul cetakan Muassasah Alkutub Assaqafah halaman 138 berkata :

 أخرج الطبرني وابن مردويه وابن ابي حاتم والبيهقي في الدلائل بسند ضعيف عن أبي أمامة الباهلي : أن ثعلبة بن حاطب ….الخ

Artinya :

Telah mengeluarkan oleh Imam Thabrani, Ibnu Mardawaih, Ibnu Abi Hatim dan Imam Baihaqi dalam Kitab Dalailunnubuwwah dengan sanad yang Dha’if. Dari Abi UmamahAl-Bahili Bahwa sesungguhnya Tsa’labahbin Hathib

Ulama-Ulama Yang Mengatakan Kisah Ini Dha’if Sekali (ضعيف جداً)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam takhrij hadis tafsir Al-Kasy-syaaf

Imam Azh-zhahabi dam kitab Miizaanul-i’tidaal

قال الحافظ ابن حجر فى تخريج أحاديث الكشاف. : وهذا إسناد ضعيف جداً، وضعف القصة أيضاً الذهبى فى ميزان الاعتدال. والسيوطى فى أسباب النزول وغيرهم

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul-Quran menukilkan perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam mentakhrijkan hadis-hadis kitab tafsir Al-Kasysyaf karangan Imam Az-zamakhsyari :” dan sanad ini adalah Dha’if sekali, dan kisah ini juga dilemahkan oleh Imam Azh-zhahabi dalam kitab Mizaanul-I’tidaal, dan Imam As-sayuuthi dalam Asbaabin-nuzul. (Qishasasul-Quran Bab Kisah yang dinisbahkan secara Dusta kepada Tsa’labah bin Hathib, Halaman 352- 353 cetakan Darul kutub Al-‘ilmiyyah Bairut)

Ulama-Ulama Yang Mengatakan Kisah Ini Tidak Sahih (غير صحيح)

Imam Qurthubi dalam kitabnya Tafsir Qurthubi

Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Ishabah

Adapun ulama yang mengatakan kisah ini tidak shahih banyak sekali, dan akan kami nukilkan satu persatu dibawah ini :

1. Imam Qurthubi

Tafsir Quthubi

.ﻗﻠﺖ : ﻭﺛﻌﻠﺒﺔ ﺑﺪﺭﻱ ﺃﻧﺼﺎﺭﻱ. ﻭﻣﻤﻦ ﺷﻬﺪ اﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ . ﺣﺴﺐ ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﺑﻴﺎﻧﻪ ﻓﻲ ﺃﻭﻝاﻟﻤﻤﺘﺤﻨﺔ «1» ﻓﻤﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ. ﻗﺎﻝﺃﺑﻮ ﻋﻤﺮ: ﻭﻟﻌﻞ ﻗﻮﻝ ﻣﻦ ﻗﺎﻝﻓﻲ ﺛﻌﻠﺒﺔ ﺃﻧﻪ ﻣﺎﻧﻊ اﻟﺰﻛﺎﺓاﻟﺬﻱﻧﺰﻟﺖ ﻓﻴﻪ اﻵﻳﺔ ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

Aku katakan : Dan Tsa’labah adalah ahli badar dari kaum Ansar, dan termasuk kedalam orang-orang yang disaksikan oleh Allah dan Rasulnya dengan iman, nanti penjelasan lebih detil akan datang di awal surat Mumtahanah, maka apa yang di riwayatkan tentangnya adalah TIDAK BENAR.

Berkata Abu ‘Umar : Boleh jadi perkataan orang yang mengatakan tentang Tsa’labah bahwa dia orang yang tidak mau memberi zakat adalah TIDAK BENAR. Wallahu a’lam.

Perkataan Ibnu ‘Abdil Bar dalam Quthubi.

ﻗﺎﻝاﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺒﺮ: ﻗﻴﻞ ﺇﻥ ﺛﻌﻠﺒﺔ ﺑﻦ ﺣﺎﻃﺐ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻧﺰﻝ ﻓﻴﻪ” ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻫﺪ اﻟﻠﻪ” اﻵﻳﺔ، ﺇﺫﻣﻨﻊ اﻟﺰﻛﺎﺓ، ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ. ﻭﻣﺎ ﺟﺎء ﻓﻴﻤﻦ ﺷﺎﻫﺪ ﺑﺪﺭا ﻳﻌﺎﺭﺿﻪ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ اﻵﻳﺔ:” ﻓﺄﻋﻘﺒﻬﻢ ﻧﻔﺎﻗﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ” اﻵﻳﺔ.

Berkata Ibnu ‘Abdilbar Qiila (dikatakan orang) : (ingat ya..! ini pendapat lemah, karena ibaratnya dengan Qiila) : Bahwa sesungguhnya Tsa’labah bin Hathib adalah orang yang turun padanya ayat waminhum man….. Ketika dia tidak mau memberi zakat wallahu a’lam. Dan hadis yang warid bahwa dia ikut dalam perang badar itu menentang ayat berikutnya faa’qabahum nifaaqan…. ayat. (Mausu’at kutub Turast Al-Isalami Jilid 8 halaman 210)

2. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Ishaabah, pada halaman 206 menulis biografi dua orang Tsa’labah, yang pertama adalah Tsa’labah bin Hathib bin ‘Amar bin ‘Ubaid bin Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin Malik bin Aus Al-Ansari 923

dan yang kedua adalah Tsa’labah bin Hathib atau Bin Abi Hathib tanpa menyebutkan nasabnyadi nomor 924,nah.. Tsa’labah yang nomor 924 inilah Al-Hafizh mengatakan 

 وفي كون صاحب هذه القصة – ان صح الخبر ولا اظنه يصح – هو البدري المذكور قبله نظر.

Pada keadaan pemilik kisah ini – jikapun benar kisah ini. Dan saya tidak meyakini kisah ini BENAR – adalah sahabat Badri yg disebut kan sebelumnya itu perlu nazhar (kroscek/periksa)

Ulama-Ulama Yang Mengatakan Kisah Ini Dusta ( مَكْذُوْبٌ)

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul-Quran menuliskan bab untuk kisah tsa’labah ini dengan باب القصة المنسوبة كذبا لثعلبة بن حاطب (Bab kisah yang dinisbahkan secara dusta kepada Tsa’labah bin Hathib)

Berkata Imam Ibnu Katsir dalam kitab Qisasul-Quran

Imam Ibnu katsir dalam kitabnya Qishashul-Quran menghikayahkan perkataan Al-Hafizh dalam Takhrij Hadis-hadis Kitab Tafsir Al-Kasy-syaf karangan Az-zamakhsyari :

 قال الحافظ ابن حجر فى تخريج أحاديث الكشاف :وهذا إسناد ضعيف جداً، وضعف القصة أيضاً الذهبى فى ميزان الاعتدال، والسيوطى فى أسباب النزول وغيرهم.

قلت سوف يأتي ان شاء الله تعالى ان الصحابي الجليل ثعلبة ابن حاطب بريء من هذا الاتهام الموجه اليه، وان العلماء افتروا عليه وكل عالم يقول : انه هوالمقصود في الآية المذكورة فعليه ان يتقي الله تعالى

قد ظهر لذي عينين ان روايات القصة كلها معلة فهي ما بين متروك وضعيف جدا او متهم بالكذب، وهي روايات لا تزيد القصة الا وهنا على وهن. قال ابن صلاح في مقدمته ص ٥ : لعل الباحث الفهم يقول : إنا نجد أحاديث محكوم بضعفها مع كونها قد رويت بأسانيد كثيرة من وجوه عديدة.. فهلا جعلتم ذلك وأمثاله من نوع الحسن لأن بعض ذلك عضد بعضا كما قلتم في نوع الحسن على ما سبق آنفا.

وجواب ذلك انه ليس كل ضعف في الحديث يزول بمجيئه من وجوه بل ذلك يتفاوت فمنه ضعف يزيله… ومن ذلك ضعف لا يزول بنحو ذلك الضعف وتقاعد هذا الجابر عن جبره ومقاومته. وذلك كالضعف الذي ينشأ من كون الراوي متهما بالكذب أو كون الحديث شاذا، وهذا جملة تفاصيلها تدرك بالمباشرة والبحث فاعلم ذلك فانه النفائز العزيزة.

(قصص القران لابن كثير  باب القصة المنسوبة كذبا لثعلبة بن حاطب ص ٣٥٣ )

Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih – Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul-Quran menukilkan perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam mentakhrijkan hadis-hadis kitab tafsir Al-Kasysyaf, karangan Imam Az-zamakhsyari :” dan sanad ini adalah Dha’if sekali, dan kisah ini juga dilemahkan oleh Imam Azh-zhahabi dalam kitab Mizaanul-I’tidaal, dan Imam As-sayuuthi dalam Asbaabin-nuzul

Saya katakan akan datang in sya Allah Ta’ala bahwa shahabat yang agung Tsa’labah bin Hathib terlepas dari tuduhanyang diarahkan kepadanya, 

Sungguh jelas bagi orang yang memiliki mata hati bahwa sesungguhnya riwayat-riwayat kisah seluruhnya bermasalah. Ada yang matruk, lemah sekali atau tertuduh membuat kebohongan, dan riwayat-riwayat itu tidak membuat kisah kecuali lemah diatas lemah. – Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih

Baca Juga : Fathimah Al-Fitri Muslimah Inspiratif Pendiri Universitas

Berkata Ibnu Shalah dalam miqaddimahnya pada halaman lima : Boleh jadi peneliti yang faham mengatakan : Sesungguhnya kami mendapati hadis-hadis yang dihukumi Dha’if dengan riwat-riwayat yang begitu banyak dari jalur yang banyak pula. Maka mengapa tidak engkau jadikan hadis itu dan yang semisalnya menjadi bagian dari hadis hasan..? karena sebagiannya menguatkan sebagian yang lain sebagaiman engkau kata pada bagian hadis hasan tadi.

Dan jawabannya bahwa kelemahan dalam hadis tidak serta merta hilang dengan datangnya dari beberapa arah. Akan tetapi berbeda, diantaranya ada yang hilang kelemahannya dan diantaranya ada yang tidak hilang kelemahan itu. Seperti kelemahan yang timbul karena seorang perawi tertuduh sebagai pendusta atau keadaan hadis syaaz. Dan ini adalah jumlah yang perinciannya didapati dengan mubasyarah dan penelitian.   (Qishasasul-Quran bab Kisah yang dinisbahkan secara Dusta kepada Tsa’labah bin Hathib, Halaman 352- 353 cetakan Darul kutub Al-‘ilmiyyah Bairut)

Salah seorang Ulama Al-Azhar

Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih – Syeikh Musthafa Murad salah seorang Ulama Al-Azhar dalam kitabnya “Kaifa Tahfazhul-Quran”.  Pada halaman 201 cetakan darul-Fajr Mesir pada Bab nama-nama Tafsir bil-maktsur menyuruh hati-hati atas Tafsir bil maktsur dari tiga macam

a. Hadis-hadis Dha’if dan Maudhu’

b. Kisah Israiliyyat

c. Kisah-kisah Makzubah(dusta) seperti kisah Tsa’labah bin Hathib pada ayat 78 surat          At-taubah.   

Tafsir Qurratul-‘Ainaini Syarah Tafsir Jalalain

Dalam kitab Qurratul’ainaini syarah Tafsir Jalalaini karangan Muhammad Ahmad Kan’an Qadhi negara libanon pada halaman 254 cetakanSyarikah Dar Al-Basyair Al-Islamiyyahlibanon.

Setelah menyampaikan tafsir dan sedikit kisah tentang Tsa’labah diujungnya beliau menulis.

تنبيه : هذه القصة غير صحيحة إقرأ التعليق

إن هذه القصة التي أشار اليها السيوطي، والتي قيل : ان هذه الايات نزلت فيها هي قصة متداولة على الالسن، نقلها بعض المفسرين كما رويت ولم ينكروا نسبتها الى ثعلبة، مثل ابن كثير في تفسيره والسيوطي هنا وفي الدر المنثور وغيرهما ونقلها اخرون وتعقبوها بالنقد واستبعدوا نزولها في حق صحابي جليل شهد معركة بدر، فقال الهيثمي في مجمع الزوائد : رواه الطبراني، وفيه علي بن يزيد الالهاني وهو متروك. إه. وقال الحافظ في تخريج احاديث الكشاف : أخرجه الطبراني والبيهقي في الدلائل والشعب وابن أبي حاتم والطبري وابن مردويه كلهم من طريق علي بن يزيد عن القاسم بن عبد الرحمن عن ابي أمامة وهذا إسناده ضعيف جدا. إنتهى  وقال ابن حجر مثل ذلك في كتابه الإصابة.

.وقال القرطبي في تفسيره بعد ان أورد القصة : قلت وثعلبة بدري انصاري وممن شهد الله ورسوله بالايمان فما روي عنه غير صحيح، وقال الضحاك : نزلت في رجال من المنافقين  هم نبتل بن الحارث وجد بن قيس ومعتب بن قشير  وهذ اشبه في نزول الاية فيهم. إنتهى  فالصواب : انها لم تنزل في ثعلبة بن حاطب ولا في غيره من المسلمين. والقصة المشار اليها مردودة لا يصح قبولها. فان كانت هذه الايات قد نزلت في أناس بعينهم فهم منافقون أصلا. والدليل على ذلك سياق الايات التي جاءت تبين أفعال المنافقين : إقرإ الايات ٧٣- ١١٠  وأيضا نص هذه الاية  فقوله تعالى ومنهم يعني ومن المنافقين، عندما عاهدوا الله كان كل واحد منهم منافقا ولم يكن مؤمنا ثم نافق بنقضه العهد، وقوله فاعقبهم  أي الذين نقضوا العهد وهذا يعني انهم جماعة ولو كان واحدا لقال فاعقبه .

Pemberitahuan : Kisah ini tidak sahih.. Baca Ta’liq..!

Sesungguhnya kisah ini telah diisyarahkan oleh Imam Sayuthi. Dan kisah yang menurut apa yang dikatakan bahwa Ayat-ayat ini turun berkaitan dengan Tsa’labah sering diceritakan. Sebagian mufassirin menukil kisah sebagaimana diriwayatkan dan tidak mengingkar nisbahnya kepada tsa’labah seperti Ibnu Katsir Dalam tafsirnya. Assuyuthi disini dan dalam kitab Durrul-mantsur dan selain keduanya.

Dan sebagian mufassir yang lain menukil kisah dengan membuat keterangan setelahnya dan menganggap tidak benar ayat itu turun pada haq seorang sahabi yang agung yang ikut andil dalam perang badar.

Maka berkata Al-Haitsami dalam Majma’ Az-zawaid : Hadis meriwayat oleh Thabarani. Dan salah seorang perawinya adalah ‘Ali bin Yazid Al-Alhani dan dianya adalah Matruk. Intaha.

Baca Juga : Tempat Bersejarah Islam yang Dijadikan Latar Drama Korea

Dan berkata Al-Hafizh dalam Takhrij Hadis-hadis Al-Kasy-syaf : Hadis mengeluarkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dalam Ad-dalail dan Asy-syu’ab. Dan Ibnu Abi Hatim Dan Ath-thabari dan Ibnu Mardawaih. Semuanya dari jalur ‘Ali bin Yazid dari Qasim bin ‘Abdurrahman dari Abi Umamah.  Dan ini adalah sanad yang sangat Dha’if sekali. Intaha. dan berkata Al-Hafizh dalam Al-Isabah seperti itu pula.

Dan berkata Al-Qurthubi dalam Tafsirnya setelah menguraikan kisah, Qultu (saya katakan) : dan Tsa’labah adalah salah seorang ahli badar dari kaum ansar dan diantara orang yang disaksikan oleh Allah dan Rasulnya dengan iman, maka apa yang diriwayatkan tentangnya adalah tidak sahih/tidak benar, dan berkata Adhahhak : Ayat-ayat itu turun berkaitan dengan beberapa orang Munafiq mereka adalah Nabtal bin Haris, Jid bin Qais dan Mu’tib bi Qusyair, dan ini lebih tepat ayat turun untuk mereka. intaha.

Baca Juga : Praktik Penimbunan Dilarang Dalam Ekonomi Islam

Maka yang benar adalah ayat tidak turun pada diri Tsa’labah dan tidak pada selainnya dari orang-orang muslimin. Dan kisah yang diisyarahkan kepadanya adalah tertolak dan tidak sah menerimanya. Maka apabila ayat turun berkaitan dengan seseorang secara individu maka sejatinya mereka adalah Munafiq.

Dan dalilnya adalah siyaq ayat yang datang utuk menerangkan perbuatan orang-orang munafiq. Dan pula redaksi ayat, yaitu firman Allah ” Dan diantara mereka” yakni diantara orang-orang munafiq ketika mereka bersumpah demi Allah. Adalah semua mereka munafiq, tidak pernah beriman sama sekali, kemudian jadi munafiq dengan melanggar sumpah. Dan juga redaksi ayat ” Maka Allah menanamkan kemunafiqan kedalam hati mereka. ” Maksud ayat ini mereka adalah berkelompok, kalau cuma satu orang sungguh bunyi ayatnya faa’qabahu( maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hatinya.

Perkataan Imam Al-Ghazali Dalam Ihya’ Ulumuddin

Berkata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin jilid empat halaman 330. Kitab cetakan Darul Fikri bairut Libanon pada bab Niat dan Ikhlas dan Shidq

وقال مجاهد : رجلان خرجا على ملإ من الناس قعود فقال ان رزقنا الله تعالى مالا لنتصدقن فبخلوا به فنزلت  { ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين}

Dan berkata Mujahid : Dua orang laki-laki datang keperkumpulan orang-orang yang sedang duduk-duduk lalu keduanya berkata ” jika Allah memberi rizki kepada kami harta sungguh benar-benar kami akan bersedekah, setelah mereka punya harta, mereka kikir maka turunlah ayat 

{ ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين}

Berkata imam Murtadha Azzabidi dalam Al-Ittihaf ketika mensyarah perkataan Imam Al-Ghazali yang diatas 

روى البارودي وابن السكن وابن شاهين وغيرهم من طريق معاذ ابن رفاعة عن علي بن يزيد عن القاسم عن أبي أمامة الباهلي. أن ثعلبة بن حاطب الانصاري قال يا رسول الله ادع الله ان يرزقني مالا فذكر الحديث بطوله….

قال وفي اسناد هذا الحديث نظر وهو مشهور فيما بين أهل التفسير . إه

والمسمى بهذ الاسم رجلان أحدهما ثعلبة بن حاطب بن عمير بن عبيد الاوسى الانصاري  ذكره موسى بن عقبة وابن إسحاق في البدريين، وكذا ذكره ابن الكلبي وزاده انه قتل بأحد، والثاني ثعلبة بن حاطب أو ابن أبي حاطب الانصاري ذكره ابن إسحاق فيمن بنى مسجد الضرار.

Meriwayatkan oleh Al-Barudi dan Ibnu sakan dan Ibnu syahin dan selain mereka dari Mu’az bin Rifaa’ah dari ‘Ali binYazid dari Qasim dari Abi Umamah Al-Bahili, Bahwa Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari berkata ” wahai Rasulallah mohon doa agar Allah memberi aku harta…. 

Setelah selesai menyampaikan Riwayat Hadis, beliau berkata : ” Dan pada sanad hadis ini ada nazhar. Sedangkan hadis sangat masyhur dikalangan ahli tafsir. intaha (Selesai)

Dan yang memiliki nama dengan ini ada dua orang yang satu Tsa’labah bin Hathib bin ‘umair bin ‘ubaid Al-Ausi Al-Ansari. Menyebut akannya oleh Musa bin ‘Uqbah dan Ibnu Ishaq dalam golongan Ahli Badar. Dan demikian juga disebut oleh Ibnul-Kalabi, beliau menambahkannya ” bahwa ianya terbunuh di Uhud”

Dan yang kedua Tsa’labah bin Hathib atau Ibnu Abi Hathib Al-Ansari. Menyebut akannya oleh Ibnu Ishaq Pula dalam golongan orang-orang yang membangun mesjid Dhirar.

Baca Juga : Mengenal Sahabat Nabi Muhammad SAW

Note : Imam Az-zabidi ketika mensyarah Perkataan Imam Al-Ghazali beliau hanya  menukilkan apa yang telah ditulis oleh Al-Hafizh dalam kitabnya Al-Ishabah pada halaman 206 yaitu riwayat Al-Barudi, Ibnu sakan dan Ibnu syahin. dan menurut mereka, kata Al-Hafizh  “riwayat itu perlu tinjauan ulang”

Az-zabidi tidak mengatakan bahwa ayat itu turun untuk Tsa’labah yang satu lagi, hanya menukil perkataan Ibnu Ishaq, bahwa Tsa’labah yang kedua itu Ibnu Ishaq menggolongkannya kedalam orang-orang yang membangun mesjid dhirar, memang Az-zabidi mengatakan yang memiliki nama Tsa’labah ada dua. Tetapi beliau tidak mengaitkan kedua orang Tsa’labah itu dangan ayat-ayat dalam surat Taubah itu.

وقد ثبت أنه قال لا يدخل النار أحد شهد بدرًا والحديبية. وحكى عن ربه أنه قال لأهل بدر: “اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم”, فمن يكون بهذه المثابة كيف يعقبه الله نفاقًا في قلبه وينزل فيه ما نزله الظاهر أنه غيره والله أعلم

Dan tersebut dalam hadis yang shahih, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut menyaksikan perang badar dan Hudaybiyah”

Tafsir Wahbah Zuhaili

Syeikh Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsirnya menukil


ذكر بعض المفسرين كالطبري. أن سبب نزول هذه الآية هو ثعلبة بن حاطب، وهو غير صحيح. لأن ثعلبة هذا بدري أنصاري، شهد غزوة بدر الكبرى، وناصر النبي والمسلمين نصرا مؤزرا، وممن شهد الله له ورسوله بالإيمان، قال ابن عبدالبر: ولعل قول من قال في ثعلبة: إنه مانع الزكاة الذي نزلت فيه الآية غير صحيح، والله أعلم.

Telah menyebut oleh sebagian Mufassirin seperti Imam Thabari. Bahwasanya sebab turun ayat ini adalah Tsa’labah bin Hatib. Dan itu TIDAK BENAR. Karena Tsa’labah ini adalah ahli badar dari kaum Ansar, ikut dalam perang badar kubra. Dan pembantu nabi dan kaum muslimin dengan bantuan yang besar dan dia termasuk kedalam orang-orang yang disaksikan oleh Allah dan Rasulnya dengan iman.

Berkata Ibnu ‘Abdil Bar : Dan boleh jadi perkataan orang yang mengatakan tentang Tsa’labah bahwa dia orang yang tidak mau memberi zakat yang sehingga turun ayat padanya adalah TIDAK BENAR wallahua’lam. ( Tafsir Al-Munir karya Az-zuhaili Mausu’at kutub Turas Al-Islami jilid 10 halaman 317)

Masih dalam Tafsir wahbah Zuhaili

وقال الضحاك : إن الآية نزلت في رجال من المنافقين : نبتل بن الحارث وجدّ بن قيس، ومعتّب بن قشير، قال القرطبي : وهذا أشبه بنزول الآية فيهم، إلا أن قوله تعالى: فَأَعْقَبَهُمْ نِفاقاً يدل على أن الذي عاهد الله تعالى لم يكن منافقا من قبل، إلا أن يكون المعنى: زادهم نفاقا ثبتوا عليه إلى الممات،

Berkata Imam Adhahhak : Bahwa sesungguhnya ayat turun pada beberapa orang munafiq yaitu Nabtal bin Haris, Jid Bin Qais, dan Mu’attib Bin Qusyai.

Berkata Imam Qurthubi : Ini lebih Cocok ayat turun pada mereka, di samping firman Allah selanjutnya Fa’aqabahum Nifaaqan….. Itu menunjuk bahwa orang yang berjanji dengan Allah itu sebelumnya tidak munafiq, dan orang yang awalnya sudah munafiq Allah tambahkan nifaq kepadanya sampai mati.

 Beberapa Kejanggalan Dari Kisah Tsa’labah

Terdapat beberapa kejanggalan dalam kisah Tsa’labah yang sangat fenomenal tersebut, diantaranya :

1. Bertentangan dengan Nash-nash Al-Quran dan Hadis-hadis yang saheh. Seperti firman Allah swt dalam surat Ali ‘Imran. Ayat tentang Allah mengampuni dosa-dosa orang yang berbuat keji dan menzalimi dirinya sendiri. Bahkan orang murtad sekalipun yang sudah keluar dari agama, Allah swt menerimanya kembali sebagai hamba yang muslim. Bagaimana dengan orang yang terlanjur tidak mau memberi zakat, kemudian dia bertaubat..?

2. Bertentangan dengan Ayat-ayat atau Hadis tentang Allah Maha pengampun dan Maha Menerima Taubat. Dan ayat-ayat ataupun hadis tentang pemaafan dan Akhlaq Nabi.

Baca Juga : Menghafal Al-Quran Hukumnya Fardhu Kifayah

3.

 ومن غرائب هذه القصة رفض النبي صلى الله عليه وسلم قبول زكاته وكذلك الخلفاء الثلاثة من بعده. وهل يرد الرسول صلى الله عليه وسلم تائبا جاءه معتذرا.؟ وبذلك يتبين لنا رجحان قول الضحاك بن مزاحم رحمه الله تعالى أنها نزلت في رجال من المنافقين كما تقدما وانه لا

Dan diantara kejanggalan kisah ini pula, sebagaimana disebutkan dalam kitab Qurratul’ainaini. Yaitu penolakan Nabi saw dan khalifah-khalifah yang tiga sesudahnya untuk  menerima zakatnya, apakah Rasulullah saw menolak orang yang bertaubat datang kepadanya seraya meminta maaf..?

Karena itu jelaslah bagi kita akan kuatnya pendapat Dhahhak bin Muzahim ra. Dan perkataan Mujahid sebagaimana telah menukil oleh Imam Al-Ghazali bahwa sesungguhnya ayat turun pada beberapa orang dari kelompok orang-orang munafik.

Baca Juga : Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if Dan Dusta

4. Bertentangan dengan ruh islam, kasihan sekali Tsa’labah yang ada dalam cerita itu memang sudah benar-benar ingin taubat. Menyesal habis atas sikapnya yang telah khilaf terhadap Rasulullah saw, sampai beliau dalam satu riwayat telah gila dan menaburkan pasir keatas kepalanya karena Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Usman tidak mau menerima zakatnya/taubatnya. Sedih sekali, sangat bertentangan dengan nafas islam itu sendiri.

Padahal dosanya hanya terlanjaur kata kepada utusan Rasulullah saw tidak mau mengeluarkan zakat. Sedangkan didalam hadis lain ada dosa yang lebih dahsyat dari itu, yaitu seorang perempuan hamil karena zina. Rasulullah saw menerima permintaan perempuan itu untuk ditegakkan hukuman keatasnya sebagai bentuk taubatnya kepeada Allah swt.

5. Orang Musyrik, dia Musyrik menyembah selain Allah, pelaku dosa besar. Apabila ia bertaubat kembali menyembah Allah swt. Allah swt menerima taubatnya apalagi yang dosanya hanya terlanjur kata tidak mau mengeluarkan zakat. – Kisah Tsa’labah, Antara Dha’if, Tidak Shahih

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa kisah Tsa’labah ini adalah kisah yang seharusnya kita berhati-hati dalam menceritakannya. Karena para Ulama berbeda pendapat atas kisah ini antara Dha’if, Ghairu sahih (tidak sahih/ tidak benar), Bathil dan makzub (dusta). Walaupun ada seorang Ulama yaitu Imam Al-Alusi yang berpendapat sahihnya kisah tersebut. Namun pendapat beliau adalah syaaz, jauh sekali perbedaannya dengan pendapat-pendapat ulama lain.

Dan dakwaan Syeikh Al-Alusi atas sahihnya kisah tersebut telah dibantah oleh para ulama lain. Dan Syeikh atau siapapun tidak dapat menunjukkan satu dalilpun untuk menguatkan pendapat tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam diskusi panjang dengan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani.

Jawaban atas sanggahan dan pertanyaan

Pertanyaan I :

Ada orang mengatakan “kan bisa kita kompromi, menghamal kalam ulama untuk tidak kita katakan Palsu agar lebih selamat”..?

Jawaban :

Kisah itu terjadi perbedaan pendapat ulama antara Dha’if, Tidak sahih, bathil dan palsu. Kami sendiri tidak mengetahui cara kompromi yang dimaksudkan. Bagaimana kita akan mencampur adukkan antara benar dan tidak benar, dhai’f atau kuat, palsu atau tidak palsu, kalau sahih ya sahih, kalau dha’if atau palsu ya dha’if atau palsu.

Untuk lebih selamat, dalam hal ini kita sunat Mura’atul-khilaf (menjaga / memelihara khilaf),

Mura’atul-khilaf itu kaedahnya ” Apabila suatu perbuatan terdapat dua kemunkinan antara boleh ataupun haram misalnya. Maka disini kita lebih dianjurkan untuk berada diposisi haram, agar kita tidak melakukannya yang berakibat kepada melakukan dosa”.

Naah..! Dalam konteks kisah ini terdapat beberapa kemunkinan, antara Dhai’f, Ghairu Shahih, dan Makzub. Maka dalam hal ini kita lebih dianjurkan (sunat) berada diposisi Makzub agar kita tidak menceritakannya yang berakibat kepada berdausa menceritakan Hadis / kisah palsu, kalaupun kita ceritakan, kita sebutkan marja’ , keterangan dan status kisahnya.

Pertanyaan II : Bagaimana dengan Vidio-vidio para ulama seperti Habib Umar, Habib ‘Ali Zainal ‘Abidin yang menceritakan kisah ini..?

Jawaban :

Dengan uraian dan beberapa Nash diatas sebenarnya sudah memadai sebagai jawaban untuk pertanyaan ini, sudah jelas apa yang telah dinashkan oleh oleh para Ulama tentang masalah Tsa’labah ini, selanjutnya terserah kepada kita masing-masing.

Dan bagi kita yang menjadikan vidio-vidio tersebut untuk membantah dan menolak pendapat-pendapat ulama-ulama yang sudah disebutkan diatas, kami rasa tindakan itu tidak wajar dan kurang beretika, dan sekiraya Habib Umar tau kalau vidionya itu dijadikan sebagai Alat untuk membantah Pendapat-pendapat ulama besar tersebut, munkin beliau akan murka, karena beliau menceritakan kisah itu tidak dalam konteks melawan pendapat ulama-ulama tersebut, karena siapa Habib Umar dan siapa pula Imam-imam semisal Ath-thabari, Al-Hafizh Ibnu hajar, Ibnu Katsir dan lain-lain.

Sanggahan I : Dengan dituliskan kisah ini dalam kitab para ulama dan dijadikannya sebagai asbabunnuzul, maka itulah sebagai dalil kisah ini shahih..

Jawaban :

Tidak demikian. ! Banyak Ulama-ulama menuliskan hadis-hadis Dhaif bahkan Palsu dalam kitab-kitab mereka. Namun itu bukanlah sebagai dalil atas sahihnya hadis-hadis tersebut, melainkan sebagai ilmu untuk generasi bahwa ada riwayat hadis ini atau kisah ini namun statusnya adalah Dha’if atau palsu.

Pertanyaan III : Kenapa tidak bertanya kepada Ayah atau Abu..?

Jawaban : Dalam Al-Quran Allah swt menyuruh kita bertanya kepada yang ahli apabila kita tidak mengetahui, namun apabila kita mengetahui dan kita punya jawaban dan tidak ada keragu-raguan sedikitpun tidak mengapa kita tidak bertanya.

Kalaupun kita bertanya kepada ayah atau Abu, nanti kalau kita merasa pertanyaan kita tidak terjawab. Mana munkin kita bertanya dua sampai tiga kali bahkan beradu argumen dengan Ayah maupun Abu. Tidak beretika nanti jadinya, kalau langsung kita menulis seperti ini kami rasa sudah sangat sopan dan beradab, kalau ada yang salah atas apa yang kita tulis kita sudah siap untuk dipanggil diminta pertanggungjawaban.

Demikianlah yang dapat kami tulis mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk generasi, dan mudah-mudahan risalah kecil ini menjadi amal jariyah bagi kami diakhirat kelak amiin.

 123 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *