Menghafal Al-Quran Hukumnya Fardhu Kifayah

Menghafal Al-Quran Hukumnya Fardhu Kifayah

Spread the love

storyislam.com Menghafal Al-Quran Hukumnya Fardhu Kifayah – Tersebut dalam kitab Sab’atul kutub Al-Mufidah karangan salah seorang ulama Hadhramaut Yaman. Yaitu Assayyid Al-‘Allamah ‘Alawi bin Ahmad bin ‘Abdurrahman Assaqqaf rahimahullah pada halaman lima belas cetakan Toha Putra semarang. “Bahwa sesungguhnya menghafal Al-Quran hukumnya adalah fardhu kifayah. Apabila suatu daerah tidak ada Hafizh yang hafal tiga puluh juz Al-Quran diluar kepala” maka seluruh kampung itu ikut berdausa. Karena mengingat devinisi Fardhu kifayah adalah suatu perbuatan yang wajib secara ilzam tanpa ditentukan individu orang yang mengerjakannya.

Maka orang yang mengerjakannya berpahala, dan apabila perbuatan itu tak seorangpun yang mengerjakannya, maka semua mereka ikut berdausa. Dan apabila sebagian mereka mengerjakannya walaupun satu orang, sudah cukup dan gugur dausa untuk orang lain.

Baca Juga : Dinamika Politik Islam di Indonesia Pada Tiga Masa

Naah.! Dari sini kita heran dengan sebagian orang yang sinis dan menyinggung Al-Quran dengan menimbulkan kesan memojokkan  hafalan Al-Quran. Padahal betapa Rasulullah saw, memerentahkan para sahabat-sahabatnya agar wahyu Allah itu dihafal. Dan Allah dan Rasulnya menjanjikan pahala yang cukup besar kepada penghafalnya. Bahkan sampai kepada orang tua yang memiliki anak Hafizh akan dipakaikan mahkota indah dalam sorga. Sebagaimana tersebut dalam hadis yang saheh.

Dan Rasulullah saw sangat bersedih hati ketika sebuah peristiwa perang. Yang mana sekitar tujuh puluh sahabat yang hafiz syahid dalam perang tersebut. Sehingga Rasulullah saw melakukan Qunut nazilah mendoakan kehancuran kaum yang telah membunuh para sahabat-sahabatnya para penghafal Al-Quran.

Baca Juga : Kriteria Orang Yang Mengimami Shalat Berjamaah

selain dari itu imam Nawawi rahimahullah dalam Muqaddimah Majmu’ Syarah Muhazzabberkata

وأول ما يبتدئ به حفظ القران العزيز فهو أهم العلوم

Artinya : Dan yang pertama sekali dimulai oleh seseorang penuntut ilmu adalah menghafal Al-Quran yang ‘Aziz dan dianya adalah sepenting-penting ilmu.

Dan Imam ‘Abdul Barr dalam kitab Jaami’ bayanil-‘Ilmi wafadhlihi. Pada halaman 526-528 cetakan Darul Fikri berkata : Maka ilmu yang pertama sekali dituntut adalah menghafal Al-Quran. Dan memahaminya dan apasaja yang membantu untuk memahaminya. Maka wajib dan dituntut sangat menghafal Al-Quran, bukan berarti saya mengatakan menghafal seluruhnya adalah Fardhu. Tapi menghafalnya dari awal sampai tamat adalah wajib dan mesti bagi siapa saja yang ingin dirinya menjadi seorang ulama” intaha.

Dan heran juga kita mendengar orang mengatakan bahwa hafal Al-Quran itu bukanlah ilmu tapi hanya sebatas ibadat sunat saja,

Sungguh sangat bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi dan Imam ‘Abdul Barr itu.

Kita juga tidak setuju dengan hanya sebatas menghafal Al-Quran saja tanpa di barengi dengan belajar ilmu Hal. Yakni belajar ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kewajiban harian dengan sang Pencipta Allah swt. Berupa shalat, perkara halal dan haram dan lain-lain. Dan bagi mereka yang sedang belajar dipondok tahfizh Al-Quranberikan mereka semangat. Jangan dipojok-pojokkan dan dikatakan tidak bermanfaat kalau cuma hafal Al-Quran. Tapi berilah pemahaman kepada mereka dengan cara yang baik bahwa belajar agama juga wajib.

 147 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *