Kriteria orang yang mengimami shalat berjamaah

Kriteria Orang Yang Mengimami Shalat Berjamaah

Spread the love
storyislam.com – Kriteria orang yang mengimami shalat berjamaah – Shalat berjamaah adalah rangkaian Ibadah harian bagi ummat muslim dalam beribadah kepada Allah swt. Ada lima kali sehari ibadah ini berulang-ulang setiap hari dan malamnya.

shalat berjamaah terdiri dari satu orang Imam dan sekurang-kurangnya satu orang makmum, dan tidak ada batasan banyaknya jumlah makmum.

Oleh karena shalat berjamaah ini merupakan ibadah harian yang terus berulang-ulang setiap hari dan malamnya. Dan mengingat jamaahnya banyak dan terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat. Maka orang yang akan memimpin shalat berjamaah itu yaitu imam harus benar-benar diperhatikan kriteria, sifat, dan kelayakannya menjadi imam.

Baca Juga : Kisah Tsa’labah Antara Dha’if Dan Dusta

Kriteria orang yang mengimami shalat berjamaah –

Ada memang orang yang dengan jahil murakkabnya, dangan ego dan kesombongannya, tanpa memperdulikan orang yang lebih layak darinya menjadi imam. Ini sangat berbahaya bagi sah tidaknya shalat orang banyak. Dan bagi orang yang memahmi dan membidangi, wajib atasnya memberi nasehat dengan cara-cara yang memungkinkan. Seperti menyampaikannya dengan kata-kata yang baik atau dengan cara mengirim surat.

Syarat Utama Bagi Imam Shalat.

Orang yang ingin menjadi imam shalat, maka ada enam belas syarat yang wajib ia ketahui dan penuhi untuk menjadi imam. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab syarah muraqi Ubudiyyah pada bab Adab Imamah Dan Qudwah.

Baca Juga : Hamzah Fanzuri Ulama Besar Kerajaan Aceh

Dari enam belas syarat tersebut ada dua syarat yang berkaitan dengan bacaan Alfatihah, yang kebanyakan orang mensepelekan dan tidak memperdulikannya.

1. Bacaan Al-fatihah tidak Lahan(salah) dengan kesalahan yang merobah makna

2. Tidak Ummi, yaitu tidak bagus bacaan Al-fatihahnya.

Bagaimana Maksud kesalahan yang tidak merobah makna..?

Ada sebagian orang yang sudah terlanjur terpilih menjadi Imam. Dan dia masih Ummi alias bacaan Al-fatihanya tidak bagus, berkilah mempertahankan egonyanya dengan berkata “kan bacaan saya tidak merobah makna..? naah..! bagaimana maksudnya tidak merobah makna..?

Maksud kesalahan yang tidak merobah makna yaitu, kesalahan yang tidak berkaitan dengan makhrajul-huruf, Tasydid, mad (panjang dan pendek). Apabila kesalahannya berkaitan dengan tiga hal ini, maka tidak ada celah untuk tidak berobah makna. Kesalahan yang tidak merobah makna yaitu kesalahan yang berkaitan dengan izhar, idgham, Iqlab, Ikhfa, qalqalah, ghunnah, dan lain-lain. Dan ia tetap berdausa apabila kesalahan ini terus dibiarkan.

Dan untuk empat belas syarat yang sisa, boleh rujuk kekitab Muraqil- Ubudiyyah pada Adab Imamah Dan Qudwah.

Baca Juga : KISAH TSA’LABAH APAKAH SHAHIH ?

Maka bagi orang yang ingin memimpin shalat berjamaah, hendaklah berkaca dulu. Lihat dulu apakah dirinya sudah layak atau belum, atau ada orang lain yang lebih pantas .

kalau ada orang yang lebih dari kita. Maka serahkanlah urusan ini kepadanya, tidak layak kita mempertahankan ego dan menyombongkan diri, karena ini masalahnya ibadat orang banyak.

Dan apabila anggota jamaah sama-sama Ummi, maka Shalat berjamaah tetap dilangsungkan dengan dipilih salah satu sebagai imamnya.

 120 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *